05.12.2018

The ASC International Cinematography Summit 2018: Perhelatan yang mengumpulkan para Sinematografer Dunia

Cinematographers must continue the development of our craft as an art form, and at all levels promote the highest standards of visual storytelling within the creative community.

Our vision is to foster and encourage dialogue between all Societies Governments, Ministers of Culture, Manufacturers, Producers and Directors to further nurture and protect the visual integrity of the final product. We, as cinematographers are the custodians of the image. This is our heritage and our responsibility”.

 

“Sinematografer mesti melanjutkan pengembangan keterampilan kita – khususnya sebagai bagian dari bentuk seni, dan dalam level lain perlunya kita untuk mempromosikan standar tertinggi dari bercerita menggunakan visual (visual storytelling). Visi kami ingin memajukan dialog antara Pemerintah, Kementerian Budaya, Pengguna, Produser dan Sutradara untuk lebih jauh memelihara dan melindungi keutuhan visual hingga mencapai produk akhir. Kita, sinematografer adalah pemelihara imaji. Ini adalah warisan dan tanggung jawab kita bersama”

 

Jakarta 7 Juli 2018 – kalimat di atas menjadi pembuka dalam perhelatan dua tahunan yang diadakan ASC (American Society of Cinematographer) - The ASC International Cinematography Summit 2018. Perhelatan kali ini diadakan dari 4 hingga 7 Juni 2018 di ASC Clubhouse, Los Angeles. Event ini diyakini menjadi wadah berkumpulnya sinematografer dari berbagai penjuru dunia guna mendiskusikan, membangun dan memperkaya disiplin ilmu sinematografi. Sinematografi tidak hanya sebagai bagian dari filmmaking, namun sebagai bagian dari seni dan ilmu pengetahuan.

 

Tercatat 60 delegasi asosiasi sinematografer yang mewakili 36 negara.. Event diisi dengan diskusi yang terbagi ke dalam tiga hingga empat sesi setiap harinya. Adapun fokus dari sesi-sesi tersebut diantaranya proses kreatif sinematografer, penelitian teknologi kamera dan aksesoris pendukungnya, isu hangat seputar standar jam kerja dan lika-liku karir perempuan dalam departemen sinematografi.

 

Pada hari pertama, 4 Juni 2018 - sesi pertama dibuka dengan diskusi mengenai penggunaan format film 65mm untuk Dunkirk (2017) dan screening IMAX bersama Hoyte Van Hoytema, ASC (Sinematografer), Christopher Nolan (sutradara) dan Emma Thomas (produser). Tidak lupa, Adriano Goldman ASC ABC mensharing proses kreatifnya dalam pembuatan series Netflix, The Crown mengisi sesi selanjutnya. Pemaparan mengenai tantangan dalam penciptaan look yang elegan menggunakan Sony F55 – selain itu elegan dan beauty yang terbangun dari segi komposisi maupun penataan cahaya.

 

Sesi pertama pada hari kedua 5 Juni -  dibuka dengan sosialisasi ACES NEXT oleh Annie Chang bersama sinematografer Geoff Boyle dan Steve Tobenkin. Annie Chang merupakan perwakilan dari Science and Technology Council – AMPAS (American Motion Pictures Arts and Science) – ia menjelaskan bagaimana cara kerja ACES (Academy Color Encoding System) yang diterapkan oleh industri perfilman Amerika memasuki era digital cinema. ACES NEXT berupaya untuk menjaga warna pada film dari mulai produksi, pasca produksi, eksibisi, preservasi hingga film ingin direstorasi kembali.

 

Sesi selanjutnya, diisi dengan penerapan warna HDR colorgrade dalam film Mindhunter – diskusi dihadiri oleh Eric Weidt – Colorist dan Peter Mavromates - post production supervisor. Eric memaparkan bagaimana HDR Colorgrade mampu menghasilkan look atau gaya visual 70-an. Terakhir, presentasi dari asosisasi sinematografer Slovakia mengenai Ivan Putora. Putora merupakan penemu indikator ketajaman (sharpness indicator) yang berasal dari Cekoslovakia. Di tahun ini, International Cinematography Summit menghargai jasanya dengan memberikan penghargaan Lifetime Technical Achievement pada Putora. Selain itu, ada pemutaran cuplikan salah satu shot sinematik tertua di dunia –Place de la Concorde.

 

Pada perhelatan kali ini, dan untuk pertama kalinya ICS (Indonesian Cinematographer Society) mengirimkan dua delegasi pada event International Cinematography Summit kali ini. Mereka diantaranya Yudi Datau ICS dan Roy Lolang ICS. Satu bulan setelah kepulangan dari event tersebut, keduanya menceritakan pengalaman mereka kepada para anggota ICS maupun generasi muda yang berkarir di departemen sinematografi. Event tersebut diadakan di Kinosaurus, Kemang. Diharapkan ke depan hal ini bisa menjadi agenda rutin asosiasi.