05.12.2018

Kemampuan Bercerita dan Olah Rasa Faozan Rizal

Sore itu, penulis menunggunya di toko kopi sekitar Menteng. Selang beberapa menit, ia datang dengan mengenakan setelan santai - kaos putih dan celana pendeknya. Sebelum memesan kopi, ia memutuskan untuk melipat jas hujan hijaunya – yang telah melindungi dirinya dari terpaan hujan. Ya, dirinya – Faozan Rizal atau yang lebih akrab dengan panggilan Bang Pao. Penulis sempat gugup sesaat, karena ini menjadi kali pertama penulis memiliki kesempatan untuk bertemu langsung. Namun, dirinya yang ramah dan pembawaannya yang asyik membuat penulis mampu mengendalikan kegugupan ini.

Bang Pao menceritakan proses kreatifnya selama bergelut di ranah sinematografi. Ia bercerita pada penulis dari mulai modal dasar seorang sinematografer, pentingnya kemampuan bercerita, membangun konsep dengan sutradara, hingga eksekusinya saat di lapangan. Berikut hasil obrolan sore bersama beliau.

Bagaimana awal mula Bang Pao terpikir untuk menjadi sinematografer?

Awal mulanya justru nggak kepikir untuk jadi itu. Soalnya aku lahir dari puisi, aku pengen jadi penulis. Sayangnya ibuku nggak ngizinin aku untuk jadi seniman. Aku sangat tertarik dengan puisi, segala sesuatunya kunarasikan sebagai puisi.

Sampe di titik aku bergelut di ranah sinematografi, aku ngerasa “menata komposisi di gambar itu, seperti menata rima dalam puisi, kita bisa buat puisi menjadi harmoni atau yang kontradiktif sekalipun.”

 

Menarik saat Bang Pao menyebutkan kesenangan akan menarasikan puisi.. ini menunjukkan sudah ada kesadaran sejak dini akan menarasikan sesuatu.. keterkaitan antara narasi dan sinematografi itu sendiri gimana sih?

Narasi atau dalam hal ini kemampuan bercerita termasuk modal yang penting dimiliki oleh sinematografer. Pada dasarnya bukan sinematografer saja, tetapi mereka yang bergelut dalam pembuatan film. Hal yang perlu digarisbawahi disini adalah jangan mengatakan kita membuat film tetapi kita sedang bercerita. “DP membantu sutradara dan skenario untuk bercerita kepada penonton” itu resminya, tapi yang paling penting kamu harus tahu bahwa diri kamu memang bisa bercerita. Selain itu, yang tak kalah penting adalah penonton percaya akan cerita kamu. Tentunya kemampuan bercerita DP tersalurkan melalui tools yang dimilikinya, seperti pergerakan kamera, lensa dan lain sebagainya.

 

Apakah pemahaman mengenai ‘kemampuan bercerita’ ini mempengaruhi Bang Pao dalam membuat treatment visual di dalam film?

Oh. Jelas. Baca skenario pertama untuk mengerti masalah. Baca skenario kedua untuk menaruh clue-clue mana yang penting dan tidak penting untuk divisualkan. Baca skenario terakhir untuk nantinya bikin treatment dan konsep visual.

Ketika aku membaca skenario maka penonton harus bisa merasakan apa yang aku rasakan. Buat apa membuat gambar bagus banget, kalo penonton nggak ngerasa apa yang dialami karakter-karakternya. Itu sama saja aku membohongi sutradara,  penulis skenario, bahkan penonton sendiri. Bila terlalu indah dari skenario, maka aku ngerasa nggak berhasil menyampaikan rasa itu.

Jadi rasa berarti yaa..yang punya peranan mendasar..

Pastinya. Sinematografer harus melihat, merasakan dan mengalami semua kejadian yang terjadi sehingga berpengaruh dengan rasa dan apa yang diperlihatkan oleh visual. Bukan sekedar melihat referensi film sehingga kita membuat film seperti referensi. Bukan sekedar teknik karna ketika kamu besar kamu hanya jadi pemikir teknik malahan tidak memahami cerita dan visual. Jadi penting untuk sinematografer datang ke museum untuk mengetahui sejarah lukisan dan membedah rasa yang ditawarkan, membaca dan mendalami rasa pada puisi, jalan-jalan kemana saja dan menyerap rasa dan suasana apa yang dialami.

Nah, berdasarkan pemaparan Bang Pao itu kan lebih ke wawasan untuk memperkaya pemahaman tentang rasa ya.. tetapi gimana pada saat eksekusinya?

Hmm.. bisa dibangun melalui beberapa hal.. kalau buat aku pribadi biasanya dari penghayatan acting si aktor sama musik.

Saat DP memencet tombol record, DP akan lupa jika ia sedang merekam. Bahkan DP ikut larut dalam dialog dan merasa sedih sehingga ikut menangis. Berarti kamu bisa dibilang berhasil membangun rasa itu. Jika harus menangis ya nangis aja, jika harus meledak ledakan saja.

Terus kaya misalnya kemarin saat syuting Kartini, aku nyetel musik gending jawa. Aku cuman pengen bisa mahamin alam bawah sadarnya supaya bisa masuk. Itu lumayan menjadi cara yang asyik dalam mengolah rasa.

Satu hal lagi yang aku percaya, kita membuat gambar itu untuk pikiran alam bawah sadar. Jangan pernah berfikir gambar yang kita buat hanya dilihat oleh mata pada saat menonton saja, itu salah! Gambar yang kita buat akan tertanam di benak penonton. Bila di depan (saat menonton)  milik sutradara , penulis skenario, art director semua ada. Tetapi, ketika penonton pulang (usai menonton) apa yang tertanam di benaknya itu milik sinematografer.

 

Gambar yang tersimpan di alam bawah sadar penonton.. hmm..

Misalnya gini dalam opening pertama, utamakan dahulu visual apa yang pernah penonton alami dalam hidupnya, atau apa yang pernah penonton pikirkan. Jadikan sifatnya sedekat itu dengan keseharian. Baru memasuki pertengahan kita memainkan harmoni atau rasa yang ditawarkan oleh naratif filmnya. Kemampuan dalam mengolah rasa pada gambar itulah yang mampu tersimpan di alam bawah sadar penonton.

Ibaratnya begini ketika membaca orang biasa melihat dari kiri ke kanan, tapi bila di halaman tengah ke balik menjadi kanan ke kiri, maka pembaca akan merasakan ketergangguan atau terdistract. Sama halnya dengan film, ketika ada komposisi atau camera movement yang berbeda pasti penonton akan merasa terganggu dan merasa ada masalah dari cerita itu. Seperti pasangan selingkuh maka harmoni yang timbul menjadi tidak nyaman dan tidak stabil. Aku selalu drag ke situ.

 

Bang Pao, udah maparin cukup banyak tentang pentingnya kemampuan bercerita, treatment visual, mengolah rasa.. gimana caranya semua itu dikomunikasikan ke sutradara?

Ketika aku menerima skenario aku membuat jadwal kapan bisa bertemu dengan sutradara dan pergi bersama aku ingin mendengarkan cerita dari mulut sutradara, aku tidak langsung mengetahui cerita dan tulisan skenario. Karena membuat film itu seperti berbicara, ada suatu pesan yang ingin dikomunikasikan pada penontonnya. Sinematografer adalah orang yang paling dekat dengan action adegan pada saat di lapangan, karena ruang dalam frame milik sinematografer, sehingga ketika kita tau sutradara ingin apa di dalam filmnya dan memahami filmnya dengan benar.

Pas development, sutradara dan dop selalu bertengkar. Namun pada intinya Hanung memberi  ruang sejauh mana dop akan membuat treatment dalam cerita itu. Ketika sutradara meminta kita untuk mentreatment bagaimana Ahmad Dahlan terlihat ditinggalkan orang-orang dan sendirian bahkan keluarganya tidak mempercayainya, aku akan konsepkan lighting dan lain-lain seperti makna visual itu.

Dop harus berani menantang sutradara ketika ada perdebatan yang merujuk kekebaikan. Dan menyadarkan kesalahan sutradara setelah preview dan membantu dalam menyelesaikan masalah yang terjadi.

 

Oke, terakhir. Gimana Bang Pao melihat generasi muda Indonesia yang terjun ke ranah sinematografi? Ada masukan nggak untuk generasi muda kita?

Semakin banyak sinematografer muda dan aku berharap mereka dapat mengeksplorasi Indonesia yang luas ini.

Masalahku bukan film menggunakan lighting dan tidak menggunakan lighting. Masalahku adalah skenario itu, cerita apa yang mau disampaiin ke penonton sehingga penting tidak film itu dibuat.

Sinematografer harus sering membaca skenario dan sering riset, harus riset terus menerus, kita harus mau dengan film itu dan 100% dalam film itu.

 

Anggraini Adel