00.00.0000

Frame by Frame: Sharing Proses di Balik Layar

Bila ditanya “Apa sih Frame by Frame itu?,” mungkin secara sederhana Frame by Frame bisa dipahami sebagai program yang mewadahi para sinematografer untuk sharing proses kreatif mereka dalam sebuah pembuatan film. Proses kreatif yang bermula dari tahapan pra produksi, produksi hingga pasca produksi - sebuah tahapan yang sering disimpulkan dengan istilah ‘balik layar.’ Berbeda halnya dengan Wedangan - program SI/ICS terdahulu, yang didahului dengan pemutaran film lalu diskusi, Frame by Frame tidaklah demikian. Dengan format tanpa pemutaran film, program ini berfokus pada presentasi proses kreatif secara meluas maupun mendalam. Dimana pada akhir presentasi, diperkaya dengan sesi tanya jawab para peserta.

 

Selama 2018 ini, telah ada tiga program Frame by Frame yang berjalan dari bulan September hingga November. Program ini diselenggarakan pada minggu terakhir di tiap bulan. SAE Jakarta mendapat kesempatan menjadi venue pada ketiga program ini. Pertama pada bulan September, ‘Bedah Sinematografi Sebelum Iblis Menjemput bersama Batara Goempar.’ Selanjutnya, di bulan Oktober, ‘Bedah Sinematografi Aruna dan Lidahnya bersama Amalia TS.’ Ketiga, ‘Bedah Sinematografi Wirosableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 bersama Rachmat Syaiful’ di bulan November.

 

Terdapat sejumlah hal yang menarik dari bagaimana para sinematografer memaparkan proses kreatif mereka dalam masing-masing film. Terlebih ketiga film tersebut memiliki genre yang berbeda, dari mulai horror, drama-romantis hingga laga, tentu ini menghasilkan treatment visual yang beragam. Pertama, sebut saja dari segi referensi visual. Dalam Iblis - adanya upaya dari Batara untuk menghadirkan nuansa gothic dan underground - dengan warna lampu malam yang varian. Ini ia bangun melalui sejumlah referensi lukisan dari Francisco de Goya, diantaranya Saturn Devouring One of His Son. Tidak lupa ia membawa kamera pribadinya untuk mendapatkan nuansa foto malam hari untuk dijadikan referensi visualnya. Lia dalam Aruna, bukan film mengenai kuliner yang menjadi acuannya justru ia lebih senang menonton beberapa video-video food porn. Hingga ia menemukan tips pentingnya menjauhkan background putih pada shot-shot memasak.

 

Bukan hanya dari segi referensi visual semata, namun juga dari segi tantangan personal dari tiap-tiap genre. Seperti dalam Wiro, dibutuhkan persiapan yang detail terkait dengan equipment pendukung untuk adegan-adegan laga. Bukan hanya itu namun juga latihan koreografi - mesti adanya chemistry antara kamera dan gerak pemain. Fokus tidak boleh lengah dalam hal ini. Rachmat Syaiful (Ipung) menunjukkan materi test cam dan recce pada adegan golden scene pertemuan Wiro dengan anak buah Kalingundil. Selain itu, dalam Aruna - adanya upaya Lia untuk mengeksplorasi blocking pada sejumlah group shot. Ini juga dikarenakan adanya ketakutan dari sutradara akan blocking yang sudah terlalu biasa dan menjenuhkan. Ini menjadi tantangan tersendiri baginya.


Program di bawah naungan komite Education & Outreach ini, diharapkan menjadi program jangka panjang Indonesian Cinematographer Society untuk tiga tahun masa kepengurusan, bahkan kalau perlu dapat berlangsung untuk seterusnya. Firdaus selaku penanggung jawab komite ini berharap Frame by Frame dapat mengunjungi beberapa perguruan tinggi yang menyediakan program studi ataupun jurusan film lainnya. Di tahun 2019 ini, ia berharap target perguruan tinggi film kawasan Jakarta sekitarnya dapat terpenuhi. Tentunya keberlangsungannya mengikuti bagaimana animo para mahasiswa/i maupun pelajar terhadap event ini.