00.00.0000

Depth of Field: Sebuah Telaah Historis Ruang Ketajaman

Abstrak

Dalam ranah sinematografi, depth of field dapat diartikan sebagai ruang ketajaman pada sebuah gambar. Namun, tulisan ini tidak meletakkan perhatian yang besar terhadap aspek teknis depth of field, melainkan aspek historis yang melatari lahirnya konsep tersebut. Penulis hendak mencari tahu pemahaman ‘ruang ketajaman’ dalam ranah visual lain sebelum film, yakni seni lukis dan fotografi. Bagaimana ruang ketajaman ini dipahami dalam ranah seni lukis dan fotografi? Apakah ada pemahaman yang membedakannya saat dikembangkan di ranah film?

 

Abstract

Depth of field is the apparent sharpness in front of and behind the exact point of focus. This paper will not pay more attention in technical aspect, but rather in historical aspect of depth of field it self. The writer tried to figure it out the basic understanding of ‘depth of field’ in other visual field before cinema, which were the art of painting and photography. How the concept of depth of field being developed in painting and photography? Is there a different conception of depth of field when it came into film?

 

Kata Kunci

Depth of Field |Perspektif | Ketajaman

 

Key Words

Depth of Field | Perpective | Image Sharpness

  1. Pendahuluan

 

Pada pemetaan studi sinematografi, depth of field kerap diletakkan studinya di bawah elemen lensa – bersamaan dengan pemahaman tentang perspektif, focal length, diafragmateknik deep focus dan lainnya yang terkaitNamun, seringnya depth of field hanya ditelaah dari segi teknisnya semata. Apa saja yang mempengaruhinya? Bagaimana perhitungan matematisnya? – sejumlah pertanyaan yang tidak lepas dari pendekatan teknis. Tentunya terdapat begitu banyak literatur pengantar sinematografi yang telah memaparkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Oleh sebab itu, tulisan ini akan memilih pendekatan lain di luar teknis,  yakni pendekatan historis.

Pendekatan historis dalam menelaah depth of field dirasa menarik dikarenakan masih terhitung pemikir yang meletakkan perhatiannya disini. Bila hendak berbicara mengenai apa yang melatari lahirnya depth of field, tentunya erat kaitannya dengan sejarah visual peradaban manusia. Peradaban telah mencatat bahwa indra penglihatan memiliki peranan yang mendasar dalam sejarah peradaban manusia, ketimbang indra lainnya. Bukan hanya peranan indra penglihatan saja, tetapi juga konsepsi ketajaman. Bagaimana peradaban manusiamenempatkanketajaman sebagai ide akan kenormalan dalam penglihatan. 

Mata dianggap normal bila mampu menangkap objek secara tajam dan jelas. Bila mata menangkap objek secara buram dan tidak jelas, mata dianggap mengalami kecacatan. Oleh karena itu, dibutuhkan lensa kacamata sebagai instrumen yang mampu  mengembalikan mata ke esensi normal – dapat melihat dengan tajam dan jelas. Sekiranya ilustrasi di atas dapat memberikan gambaran akan konsepsi ketajaman dalam peradaban manusia. 

Dengan demikian, menelaah depth of field dengan pendekatan historis dapat dikatakan pentingkarena dengan ini penulis mengajak pembaca untuk bersama-sama menelaah bagaimana konsep ruang dan ketajaman memiliki peranan yang besar terhadap perkembangan sejarah  visual. Selain itu, konsepsi akan ketajaman-pun  turut membentuk wacana realisme dalam peradaban manusia. Di mana hal ini terkait dengan upaya manusia dalam mengejar ide-ide akan realitas pada ranah seni lukis, fotografi hingga film. Terdapat dua pertanyaan yang perlu digaris bawahi dalam tulisan ini, diantaranya:

  • Bagaimana ruang ketajaman hendak dibangun konsepsinya sepanjang sejarah perkembangan visual? 
  • Apakah ada konsepsi yang membedakannya saat dikembangkan di ranah film?

 

 

 

  1. Pembahasan

Pembahasan ini akan terbagi ke dalam tiga pembagian, diawali dengan seni lukis, kemudian fotografi terakhir film. Tiap bagian akan membahas bagaimana konsepsi ruang dan ketajaman terbangun pada tiap-tiap ranah visual. Hingga memasuk ranah fotografi, hadirlah sebuah istilah mekanis yang dikenal sebagai depth of field. Pembahasan ini diharapkan mampu menjawab dua pertanyaan besar dalam tulisan ini.

   

Seni Lukis: Ide Mengenai ‘Ruang’ dan ‘Ketajaman’

Berbicara keterkaitan seni lukis dalam perbincangan mengenai depth of field, tentunya tidak lepas dari usaha seni lukis dalam membentuk konsepsi tentang ruang maupun ketajaman. Tanpa adanya konsepsi dasar mengenai ke dua hal ini, maka konsep mengenaidepth of field tak akan ada.Oleh karenanya, bagian ini akan menelusuri konsepsi tentang ruang, yang kemudian disusul dengan konsepsi tentang ketajaman.

 

Konsepsi mengenai ruang dalam sejarah seni lukis tidak pernah lepas dari usaha manusia dalam menciptakan ilusi tiga dimensi pada bidang dua dimensi. Perkembangan ilmu pengetahuan pada era Renaisans memiliki peranan yang besar terhadap penciptaan ilusi ini dan merupakan tonggak perubahan yang cukup besar pada wajah seni lukis barat. Penciptaan ilusi kedalaman ini sering disebut dengan perspektif. 

Alberti termasuk estetikawan era Renaisans yang berhasil menjadikan perspektif[1]sebagai bagian dari metode yang dapat diterapkan oleh para pelukis pada masa itu. Dalam risalah yang ia tulis, De Pictura (1436) ia memaparkan bahwasanya perspektif linear merupakan turunan dari studi optik – di mana ia melakukan studi mengenai cara manusia melihat melalui sebuah corong. 

Corong visual mata ditentukan oleh jauh atau dekatnya objek visual. Semakin kecil sudut corong visual penglihatan, semakin kecil objek. Begitu pula sebaliknya. Titik imajiner yang terletak pada ujung pandangan mata disebutnya sebagai “titik pusat” (centric point) – yang kemudian dikenal dengan “titik lenyap” (vanishing point).[2]Apabila dari titik pusat itu ditarik garis horizontal, maka akan tercipta dua bidang visual dengan luas yang sama – garis inilah yang menciptakan ilusi kedalaman pada bidang dua dimensi. Metode ini lambat laun mulai diterapkan oleh para pelukis era awal Renaisans (early renaissance), seperti Fra Angelico dan Massacio. Hingga memperoleh bentuk mapannya (high renaissance) oleh para pelukis seperti Da Vinci, Raphael dan Micheangelo.

 

Bilamana perspektif erat kaitannya dengan cara manusia memahami ruang, maka kinerja optik erat kaitannya dengan cara manusia memahami ketajaman. Tercatat seorang estetikawan timur bernama Ibn Al-Haytham yang dalam hidupnya berkontribusi dalam merumuskan proses penglihatan manusia. Pemikirannya ia satukan dalam sebuah risalah yang ia beri judul Kitab Al Manazir(Buku tentang Penglihatan). Untuk mengetahui hal ini, Al-Haytham mengupas pemikiran para pendahulunya yang mencoba merumuskan bagaimana sebuah objek dapat dilihat oleh mata manusia.

Teori penglihatan yang ia rumuskan amat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu optik di barat, khususnya saat risalah ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judul De Aspectibus pada 13 Masehi. Pada abad yang sama mulai adanya kesadaran para teknisi untuk menciptakan instrumen yang memudahkan pelukis untuk melukiskan detail subjek. Di mana instrumen ini menggunakan kaca cekung (concave mirror) untuk menghadirkan proyeksi dari subjek. Tercatat pelukis yang mulai menggunakan instrumen ini tak lain, Van Eyck, Ingres dan Carravagio. Instrumen ini yang pada nantinya dikenal dengan camera lucida. Kehadiran camera lucidadalam dunia seni lukis menandakan kesadaran pelukis akan pentingnya ketajaman subjek dalam sebuah lukisan.

Dapat disimpulkan penemuan perspektif dalam sejarah seni lukis memberikan kontribusi yang besar terhadap konsepsi tentang ruang dalam perkembangan visual. Selain itu, diterapkannya optik dalam praktik seni lukis memperlihatkan upaya seniman ataupun ilmuwan dalam menjadikan ketajaman sebagai suatu hal yang penting dalam penciptaan visual.  

 

 

 

 

Fotografi: Lahirnya Depth of Fieldsebuah istilah mekanis 

 

Istilah depth of fieldatau kedalaman ruang mulai hadir bersamaan dengan perkembangan fotografi pada pertengahan abad 19 – saat visual mampu mengimitasi realita sebagaimana adanya dan mampu direproduksi secara masal. Namun, kesadaran atas istilah ini belum terlalu disadari hingga lensa dianggap sebagai instrumen yang mendasar bagi fotografi itu sendiri. Perlu disadari prinsip kerja lensa fotografi mengingatkan kita pada prinsip kerja corong visual Alberti dan konsep optik Ibnu Al Haythm. Rancangan lensa fotografi mendapat sumbangan besar dari hasil pemikiran dua pemikir tersebut. Dengan kata lain, lensa fotografi menjadi suatu pengembangan yang pesat dan kompleks dari camera lucida. Lensa fotografi bukan hanya sebagai instrumen yang meneruskan cahaya ke kamera – tetapi juga instrumen yang mengatur porsi masuknya cahaya dan ketajaman objek yang ditangkap oleh kamera.

Bilamana dahulu peran instrumen optik hanya sebagai alat bantu bagi pencipta visual (pelukis), kini instrumen optik (lensa) bukan lagi alat bantu – tetapi telah tergabung menjadi instrumen mekanis (kamera) yang turut menghasilkan gambar. Ini juga yang pada akhirnya membuat konsepsi akan ruang dan ketajaman dalam seni lukis menjadi berbeda saat masuk ke dalam ranah fotografi.

 

 

When a painter fails to achieve such realism up to photographic standards, the difficulty is merely technological, one which, in principle, can be overcome – by more attention to details, more skill with the brush, a better grasp of the “rules of perspective.” Likewise, photographs aren’t necessarily very realistic in these sort of ways. Some are blurred and badly exposed. Perspective “distortions” can be introduced and subtleties of shading eliminated by choice of lens or manipulation of contrast. Photographic realism is not essentially unavailable to the painter, it seems, nor are photographs automatically endowed with it. It is just easier to achieve with the camera than with the brush. [Wanton, Kendall. 2008: 18]

 

Ada dua hal yang membedakannya. Pertama, bilamana ruang atau perspektif dalam seni lukis amat ditentukan oleh skill pelukisdan bidang kanvasnya, maka beda halnya dalam fotografi. Dalam fotografi, perspektif pada gambar yang dihasilkan ditentukan oleh skill fotografer, lensa dan bahan baku film pada kamera. Lensa memiliki peranan yang cukup besar terhadap perspektif yang ada pada gambar. Focal Length dan sudut lensa yang beragam turut menghasilkan perspektif yang berbeda pula. Belum lagi saat ditemukannya perspektif yang terdistorsi seperti yang dikatakan Wanton. Di mana problema ini tidak ditemukan dalam ranah seni lukis. Selain lensa, tentunya ukuran bahan baku (35 mm,medium format)amat menentukan cakupan gambar yang mampu tertangkap, layaknya sebuah kanvas.

Kedua, perihal ketajaman. Bilamana ketajaman dalam seni lukis ditentukan oleh skill melukis maka dalam fotografi ditentukan oleh pemahaman fotografer terhadap prinsip kerja lensa tersebut. Fotografer tidak membuat ketajaman layaknya seorang pelukis, tetapi memilih ruang mana yang ingin ditajamkan dengan lensanya. Disinilah depth of field berbicara. Sama hal-nya dengan perspektif yang memungkinkan gambar menjadi terdistorsi, disini-pun gambar dapat pula menjadi bluratau tidak tajam. Ketidaktajaman disini bisa sebagai problema teknis atau juga pilihan yang sengaja dibuat fotografer.

Pemaparan diatas merupakan gambaran besar akan perbedaan konsepsi ruang ketajaman dari seni lukis ke fotografi. Berikut merupakan penjelasan penerapan teknik depth of field dalam lensa.

Di dalam lensa terdapat gerigi yang mengatur sedikit atau banyaknya cahaya yang masuk – dengan cara membuka dan menutup. Lubang ruang yang dilalui cahaya inilah yang disebut apertureAperturedihitung dengan satuan f-stop. Gambar 3 memperlihatkan hubungan antara depth of fielddan aperture.Dapat dipahami semakin besar angka f-stop (bukaan gerigi mengecil) maka semakin luas depth-of-fieldyang didapat. Apabila angka f-stop menjadi lebih kecil (bukaan gerigi membesar), maka semakin sempit depth of fieldyang di dapat. Hal ini memperjelas peran aperturedalam mempengaruhi ketajaman gambar. Namun, selain aperture, focal length-pun turut memengaruhi depth of field.

Lensa dengan jangkauan sudut yang luas, atau dalam hal ini lensa widedengan focal length16 mm, 24 mm atau 35 mm cenderung menghasilkan gambar dengan depth of fieldyang luas. Ini sering kali disebut dengan deep focus– sebuah teknik yang mampu menghasilkan ruang ketajaman yang tak terbatas. Teknik ini kerap digunakan oleh fotografer saat dirinya merasa fotonya akan berbicara bila ruang tajam diperlihatkan dari foreground hingga background. Fotografer yang bergerak di ranah jurnalistik, kerap menggunakan teknik ini guna menghasilkan foto yang bersifat informatif.

Lensa dengan jangkauan sudut yang sempit, atau dalam hal ini lensa tele dengan focal length100 mm, 135 mm, 200 mm seterusnya – cenderung menghasilkan gambar dengan depth of fieldyang sempit. Ini kerap disebut dengan teknik shallow focus– menghasilkan ruang ketajaman yang tipis. Teknik ini memiliki cara berbicara yang berbeda dengan teknik deep focus. Fotografer yang menggunakan teknik ini tidak terlalu meletakan perhatian yang besar akan ketajaman dari foregroundhingga background ataupun peran foto yang bersifat informatif. Adanya pendekatan estetis yang ditawarkan oleh teknik ini.

Dapat disimpulkan pemahaman mengenai depth of fieldtak dapat dilepaskan dengan kebutuhan fotografer – apa yang hendak ia sampaikan pada fotonya. 

 

 

Sinematografi: Peran Ruang Ketajaman dalam sebuah film

 

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, telah disadari adanya jejak kesadaran yang kuat akan ruang ketajaman dalam ranah seni lukis maupun fotografi. Seni lukis memberikan kontribusi yang besar terkait dengan usahanya dalam membangun konsepsi akan ruang dan ketajaman. Konsepsi mengenai ruang dalam seni lukis amat terasa saat dirumuskannya dan diterapkannya kaidah perspektif pada masa renaisans. Tak jauh dari itu, konsepsi mengenai ketajaman mulai terasa saat optik mulai diaplikasikan dalam seni lukis. Baik ilmuwan maupun pelukis bersama-sama mencari tahu peran optik dalam mempermudah para pelukis untuk menangkap detail maupun ketajaman pada lukisan yang hendak dibuatnya. 

       Bila hendak mengaitkan dua penemuan terpenting ini dalam ranah sinematografi tentunya menjadi jelas. Perspektif menjadi perlu dipahami karena pada dasarnya depth of field menuntut seorang sinematografer dalam memahami kedalaman ruang yang hendak direkamnya menggunakan kamera. Bagaimana caranya memilih ruang mana yang ingin ditangkap dengan tajam jika sinematografer tidak memahami konsep kedalaman ruang? Selain itu, kerja optik menjadi penting dikarenakan dari situlah seorang sinematografer memahami prinsip ketajaman. Bagaimana mata pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memfokuskan diri pada objek mana yang ingin di tangkap secara tajam dan mana yang tidak – layaknya lensa pada kamera.

       Namun, sebelum menelaah lebih jauh mesti diingat peran kunci fotografi diantara seni lukis dan film. Fotografi menjadi kunci karena melalui-nya lah istilah depth of fieldlahir. Kehadiran instrumen mekanis yang bernama kamera ini mengharuskannya melahirkan suatu istilah-istilah yang mampu mendeskripsikan fiturnya. Istilah yang mampu menunjang kompleksitas instrumen tersebut. Depth of field tidak semata-mata lahir sebagai istilah tunggal, tetapi bersamaan dengan istilah deep focus, shallow focus, focal length, aperture, circle of confusion dan lainnya yang terkait. Di mana pada era seni lukis, belum adanya tuntutan untuk memberikan istilah atau penamaan akan segala sesuatunya yang terkait dengan optik dan ketajaman. Hal ini menjadi wajar dikarenakan belum diciptakannya suatu bentuk instrumen yang kompleks, layaknya kamera.

       Film – atau dalam hal ini sinematografi cukup banyak mengadaptasi istilah yang sudah lebih dulu dikembangkan dalam ranah fotografi. Adapun catatan yang membedakan yakni sinematografi tidak berhadapan dengan gambar diam (still image) tetapi gambar yang bergerak (moving image). Gerak disini posisinya tidak hanya yang merekam 24 frame per detik, tetapi juga gerak subjek yang ada dalam frame dan pergerakan kamera dalam merekam gambar. Ketajaman pada gambar dalam film ditantang karena adanya pergerakan. Pergerakan ini yang membedakan film dengan visual terdahulunya. Hal ini yang membuat depth of field secara ketat membutuhkan perhitungan matematis. Ini pula yang menjawab mengapa depth of field begitu erat perbincangannya menggunakan pendekatan teknis.

       Hal lain yang membuat konsepsi depth of field dalam film menjadi berbeda dengan fotografi yakni keterikatan dengan unsur naratif. Bilamana penggunaan teknik deep focus maupunshallow focus dalam fotografi mengikuti apa yang dinginkan atau dibutuhkan sang fotografer, berbeda halnya dengan yang terdapat di dalam film. Penggunaan teknik deep focus maupun soft focus diikat dengan fungsi visual sebagai penunjang naratif film. Dengan kata lain, terikat dengan kaidah menuturkan cerita (story telling). Seberapa besar porsi ruang di dalam frame perlu diperlihatkan kepada penonton sebagai bagian dari penceritaan? 

 

       Hal semacam ini juga pernah dipaparkan oleh seorang teoritikus film Andre Bazin dalam esainya yang berjudul The Evolution of the Language of Cinema. Namun, pemikiran yang ditawarkan oleh Bazin lebih kepada perandepth of field sebagai agenda politis dari tradisi realis di dalam filmIa meyakini film yang menggunakan teknik deep focuspada adegannya mampu menghasilkan efek realis kepada penontonnya dibandingkan penggunaan teknik montage. Ia menyebut sejumlah pergerakan sinema yang konsisten dengan teknik ini seperti Neorealisme Italia dan sejumlah film yang lahir tak jauh dari eranya, seperti Citizen Kane.

Bagi Bazin, film yang meletakkan kekuatannya pada teknik montagememiliki kecenderungan mendikte penontonnya, dibandingkan dengan film yang memanfaatkan teknik deep focus. Deep focus memberikan keleluasaan pada penonton untuk memilih ruang mana yang ingin menjadi perhatiannya. Dengan kata lain, adanya demokratisasi penonton dalam membentuk makna pada adegan. Walaupun di satu sisi, Bazin meyakini hal ini juga dapat membentuk keambiguitasan makna yang dihasilkan adegan. Namun, tetap ini bagian dari agenda politis dari teknik deep focus. 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

 

            Dengan demikian dapat disimpulkan konsepsi ruang ketajaman kerap mengalami perkembangan dari satu ranah visual ke visual lainnya. Ide ketajaman yang berangkat dari konvensi dasar penglihatan manusia, hendak dibangun kembali di dalam visual-visual ciptaan manusia. Dapat dilihat bahwa ruang ketajaman tidak dapat dilepaskan dari wacana mengenai usaha manusia mengejar realitas. Perumusan pemikiran maupun penemuan teknologi-nya pun didukung atas dasar itu. Hal ini dapat ditelaah semenjak hadirnya konsep perspektif dan diterapkan kaidah optik dalam seni lukis. Hingga perlahan ditemukannya instrumen mekanis seperti camera lucida, kamera fotografi dan kamera film.

            Adapun yang membedakan konsepsi ruang ketajaman (depth of field) di dalam film berbeda dengan visual pendahulunya, yakni 1.) Adanya unsur gerakan yang dihadirkan dalam film. Hal ini menuntut adanya perhitungan matematis yang ketat sifatnya. 2.) Terikat dengan kaidah naratif. Fungsi visual sebagai penunjang cerita. 3.) Adanya agenda politis terkait dengan tradisi film realis– posisi teknik deep focus sebagai tandingan dari teknikmontage. 

            Dengan demikian jelaslah sudah pemahaman historis mengenai ruang ketajaman sebelum kelahiran film itu ada dan hal-hal yang membedakannya dengan film.

 

 

Julita Pratiwi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]Jauh sebelum Alberti pada abad 13 M, ada Vitruvius (1 M) yang telah menerapkan perspektif pada studi arsitektur. Tetapi kala itu belum adanya usaha untuk menerapkan perspektif sebagai metode seni lukis.

[2]Suryajaya, Martin. 2015. Hl. 214